Total Tayangan Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Negeri "The Coat of Many Colours"

Beberapa bulan yang lalu saya sangat terkesan dengan kisah Yusuf. Beberapa kali PA dengan kelompok PA tentang Yusuf membuat saya mengagumi tokoh ini. Perjalanan hidupnya yang up and down dia hadapi dengan tenang, dan dia mengakhiri perjalanannya dengan sangat baik. Kisah inilah yang menginspirasiku untuk keluar dari zona nyaman, berani mencoba hal baru, siap menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup dan segala perubahan yang mungkin terjadi kedepan. Kisah Yusuf juga yang menguatkanku untuk mengambil keputusan untuk studi di DTC Singapura, meskipun dari sisi pembiayaan dan lain-lain aku tidak siap dan tidak tahu dari mana. Dan dalam waktu 4 bulan, Tuhan menjawab doaku dan menyediakan satu persatu kebutuhan dana untuk studi sampai dengan hari ini.

Pagi ini, aku membuka buku renungan yang diberikan oleh gereja lokal. Judulnya "The Coat of Many Colours"... pertama aku kurang menggubris istilah itu.. tapi kemudian aku baru menyadari, bahwa seluruh isi 40 hari renungan itu adalah tentang kehidupan Yusuf.. What? Ya, renungan itu adalah renungan untuk berdoa bagi Singapura, celebrating God's dream to the nation danperenungan yang di ambil buku renungan itu adalah dari perjalanan kehidupan Yusuf. Hmmmm, lagi-lagi tentang Yusuf.. perenungan yang sama yang aku renungkan beberapa bulan terakhir.. dan aku akan merenungkannya lagi selama 40 hari kedepan melalui buku renungan harian itu.

Singapura kalau boleh aku katakan adalah negara dengan segala mimpi. Singapura diberkati dengan para dreamers, doers, global thinkers, dan nation builders dengan visi yang besar dan indah.

Kemarin aku baca koran dan mereka baru saja membuka satu fasilitas baru yang sangat indah arsitekturnya.. tower-tower yang seperti pohon raksasa dan di atasnya orang bisa menikmati keindahan kota dan menikmati nikmatnya makanan dan minuman yang disajikan. Koran juga menunjukkan bahwa Singapura termasuk negara yang memiliki future plan yang baik, bahkan termasuk terbaik di Asia dan dunia. Semua mereka rencanakan, mereka pikirkan dengan sangat detail. Tak heran jika negara kecil ini bisa begitu efektif dan efisien berhasil mengelola apa yang ada pada negaranya dengan baik.

Aku menyebut negeri ini negeri Yusuf. The Coat of Many Colours (Jubah beraneka warna yang maha indah) milik Yusuf. Negara ini, Singapura, terdiri dari berbagai macam warna bangsa yang ada di sini, juga berbagai kemegahan yang dibangun yang menyemarakkan keindahan kotanya.
Small Nation (negara kecil). Sebagaimana Yusuf dan juga Israel pada waktu itu adalah amat kecil namun mereka sangat memberi pengaruh bahkan pada kebijakan Mesir (Firaun) yang pada waktu itu salah satu negara yang memiliki peradaban yang tinggi di dunia.
Big Calling.  Mereka punya penggilan yang besar sebagai sebuah negara. Juga punya peran yang besar bagi negara-negara di sekelilingnya.
Negara yang full of dreams di tengah segala keterbatasan yang mereka miliki. Ada hal yang mereka perjuangkan; mengerti siapa diri mereka, apa yang sedang mereka tuju, dan memiliki visi akan menjadi seperti apa mereka..

Seperti Yusuf, di tengah segala keterbatasan yang ada, dibuang saudaranya, menjadi budak, difitnah, dipenjara, dilupakan, namun itu tak menjadikannya putus asa dan kehilangan arah hidup. Yusuf setia, bertekun dalam perkara kecil, pekerjaannya dilakukan dengan sangat baik dan diberkati Tuhan, mau berubah dan dibentuk, bekerja secara efektif dan efisien, kerja keras, teratur, tersistem dengan baik, etc..

Namun ada bahaya juga dibalik kesuksesan manusia dalam membangun peradabannya. Bisa saja ia jadi jatuh seperti bangsa yang membangun menara Babel, melupakan Tuhan bahkan ingin menjadi seperti Tuhan. Jika sudah seperti ini, didikan tangan Tuhan yang keras namun Pengasih itu bisa saja akan terjadi jika negeri itu tidak bertobat. Baiklah belajar dari Niniwe yang bertobat dan akhirnya tangan Tuhan itu tak teracung kepada kota itu.

Yusuf adalah teladan yang baik. Tidak meninggalkan Tuhan di masa terpuruk kejatuhan yang dalam. Tidak melupakan-Nya di saat Ia mengangkat Yusuf jauh tinggi sejajar dengan Firaun, penguasa Mesir. Kestabilannya percaya pada Tuhan dalam segala kondisi hidup, dan pertobatannya atas kesombongan kemegahan diri mengajar kita bagaimana hidup sebagai anak-Nya di tengah segala limpahnya pemberian-Nya bagi hidup kita. Mungkin ada baiknya Yusuf mengalami banyak titik-titik rendah dalam hidupnya. Supaya ketika Tuhan mengangkatnya tinggi, ia ingat bahwa ia pernah berada dalam titik-titik terbawah, itu mengajarnya supaya tidak sombong atas apa yang Tuhan karuniakan padanya.

Sebagaimana kata pak pendeta dalam khotbah minggu lalu, ingatlah kondisimu sebelum keadaanmu sekarang, bagaimana Tuhan mengubah hidupmu. Dulu kamu bukan apa-apa. Dulu kamu miskin. Dulu kamu orang berdosa. Dulu kamu bodoh dan tidak bisa apa-apa. Kalau kamu ada seperti sekarang ini adanya, itu hanya karena pemberian kasih karunia-Nya.

God Bless you!

Fona













.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar