Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 Januari 2012

Mengapa suka baca Alkitab?

Pengalaman pertamaku jatuh cinta dengan Alkitab adalah pada masa aku SMA. Tahu kenapa? ketika membaca dan menggali ayat di Alkitab aku menemukan dan mengenali hal-hal yang luar biasa yang membuatku terkagum-kagum.

Ketika menghafal satu ayat Alkitab atau menggali satu ayat di Alkitab di waktu SMA itu, membuatku mengerti selalu ada suatu kedalaman yang tinggi yang ada didalam ayat-ayat itu (hahaha, bahasa yang aneh ya.. kedalaman yang tinggi?) ya begitulah saking sulitnya aku menggambarkannya :)

Terkagum pada beberapa ayat yang bisa membuatku merenungkannya hingga beberapa jam.. dan selalu saja berakhir dengan : tak terselami dan tak terjangkau, walaupun aku puas dengan apa yang aku temukan di dalamnya. Betapa dalamnya, betapa tingginya, betapa lebarnya, betapa luasnya dimensi kedalaman Firman.

Kadang bisa takjub dengan apa yang aku temukan. Gambaran yang indah dan cemerlang itu membuatku terpesona dan takjub tak habis-habisnya... itulah yang menyebabkanku jatuh cinta.

Aku ingat suatu pengalaman yang tak terlupakan dimasa-masa sulit. Waktu itu, aku diberi tanggung jawab atas satu pelayanan tertentu. Pelayanan itu sebelumnya terkait dengan konflik dari orang yang sebelumnya memimpin. Tekanan stressnya bisa kurasakan. Bahkan akupun ikut terseret di dalamnya. Aku juga terseret dalam kemarahan yang terpendam, ketidaksetujuan, dan relasi yang akhirnya menjadi rusak. Membangun puing-puing itu menjadi hal tersulit bagiku.

di masa-masa itu aku tertolong oleh Saat Teduh dari perjalanan hidup Daud. Masa-masa Daud di "padang gurunnya", bagaimana ia mengambil keputusan, bagaimana kondisi yang dihadapinya, strategi perangnya, relasinya dengan Tuhan, dan banyak hal lagi menguatkanku dimasa-masa krisis itu. Menurutku, itu salah satu moment Saat Teduh terbaik yang pernah aku alami.. yang menopang, memberi jalan, menunjukkan arah dan membuka strategi baru dalam hidup.

Kini masa itu telah berlalu. Krisis itu telah berubah. Kondisi sudah "baik-baik saja". Tetapi kenapa justru kecintaan pada Firman-Nya itu terasa berkurang beberapa waktu ini? Apakah membaca Firman menjadi suatu kewajiban yang membosankan? Apakah membaca Firman menjadi suatu beban dan tidak lagi membuat mata kita berbinar dan hati bersahaja? Tampaknya, ketika itu menjadi sebuah rutinitas dan hanya sekedar sebuah proyek, maka nilai otentiknya pun terkikis habis.

Bukankah membaca Firman-Nya sama dengan mencari Dia, mendengar suara-Nya. Bukankah itu artinya sebuah relasi yang manis dan indah? Apakah waktu untuk mendengar Firman-Nya itu menjadi waktu yang manis, dinantikan, dikhususkan bagi Dia? bukan waktu dalam ketergesa-gesaan jadwal dan kesibukan hidup.. Ah, mungkin disitu letak masalahnya! itu tidak lagi menjadi komunikasi yang manis dengan-Nya. Ia sudah berubah menjadi kebiasaan dan rutinitas diantara ribuan jadwal lain.. lama kelamaan kita sudah tidak mengenal-Nya lagi, karena yang kita kenal hanyalah kehendak kita sendiri.

Aku ingin punya waktu untuk mendengar-Nya.. dan ingin berdoa setiap kali aku membaca atau mempersiapkan Firman-Nya:
"Tuhan, bukalah mataku untuk melihat keajaiban Firman-Mu. Ajarlah aku agar mengerti kehendak-Mu dalam hidup. Tuntun aku teguh berjalan dalam kebenaran-Mu, dan bantu aku mengajarkan Firman-Mu kepada orang lain dengan sebenar dan sejujur-tulusnya, seperti yang aku mengerti daripada-Mu"

Mazmur 119:18 (Bahasa Sehari-Hari)
"Bukalah mataku supaya aku melihat ajaran yang mengagumkan dalam hukum-Mu."


Karunia yang mengagumkan yang boleh kami kenal dan alami adalah bisa mengalami kehadiran-Mu lewat Firman yang kami baca. Mengenal-Mu dari dekat lewat setiap Sabda yang kami lihat dan kami dengar. Karuniakanlah bagi kami, anak-anak-Mu Tuhan, seturut dengan kasih dan kehendak-Mu bagi kami untuk memahami Firman-Mu.

Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar