Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2011

Domba yang Hilang

Sering kali membaca perikop "Perumpamaan anak yang hilang", aku lupa dengan konteksnya.
aku cuma baca hanya ayat-ayat yang terkait dengan anak yang hilang. aku lupa ada dua perumpamaan lagi yang mirip dengannya yang diceritakan sebelumnya.

ada tiga perumpamaan tentang "yang hilang" dalam 3 runtutan perumpamaan ini. Pertama tentang "domba yang hilang". kedua, "dirham yang hilang". ketiga, "anak yang hilang".
semua perumpamaan ini muncul dari satu peristiwa yang sama yang melatar belakanginya. Inilah ceritanya:

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Jika kita pikir-pikir, wajar saja orang2 Farisi dan ahli2 Taurat bersungut-sungut, marah, kecewa, menggerutu terhadap Yesus. Yesus menerima orang berdosa bahkan makan bersama-sama dengan mereka. Orang berdosa itu mungkin adalah koruptor yang merugikan negara, termasuk para penzinah, pengusaha-pengusaha licin yang merugikan masyarakat, dll... lho, kenapa Yesus, Guru Terhormat itu, justru menerima dan duduk makan bergaul dengan mereka? Kenapa justru Ia tidak menolak, mengusir bahkan menyingkirkan mereka karena perbuatan mereka yang jahat? Orang-orang Farisi dan para ahli kitab itu tidak bisa menerimanya. Orang-orang berdosa yang duduk makan bersama Yesus itu adalah orang-orang yang najis di mata mereka!

Apa jawaban Yesus terhadap kemarahan para ahli agama itu ? 3 perumpamaan ini menjadi gambarannya. 2 perumpamaan terkait dengan "harta milik : domba dan dirham", 1 perumpamaan terkait dengan relasi ayah dan anak. domba dan dirham adalah harta milik yang berharga bagi mereka.. dan puncak yang paling berharga itu adalah relasi "ayah-anak". ketiga hal yang memiliki nilai berharga ini secara tidak diinginkan tiba-tiba "hilang".


perumpamaan tentang domba yang hilang


Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
"Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba,
dan jikalau ia kehilan
gan seekor di antaranya,
tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun
dan pergi mencari yang
sesat itu sampai ia menemukannya?



Dan kalau ia telah menemukannya,
ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya
serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku,
sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

orang tersebut mengerti apa arti kehilangan seekor domba dan menemukan kembali domba yang hilang itu.
Bukan karena nilai yang 99 itu lebih mahal dari 1 yang hilang. 1 yang hilang itu nilainya sama berharganya. 1 yang hilang itu bukan berarti ia tidak berarti karena jumlahnya yang sedikit dibanding 99 yang lain. Justru nilainya lebih mahal karena 'keterhilangan, ketersesatan'nya, ia menjadi sangat berharga untuk dikembalikan ke tempatnya.

Ketika gembala itu meletakkan domba yang hilang itu di atas bahunya, ia bisa mendengar rintihan dari domba yang tersesat itu. domba itu akan merasakan rasa aman yang ketika diletakkan di atas bahu sang gembala. di tengah malam gelap yang berbahaya domba itu diselamatkan.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar